Just Loving, but still not Having you ...
Kamis, 22 April 2010
Diposting oleh
Aurora
di
22.25
0
komentar
Label: The Friday Glory
Sekantung Embun (Quote of The Day)
Kamis, 08 April 2010
Watch your words; they become actions.
Watch your actions; they become habits.
Watch your habits; they become character.
Watch your character; it becomes your destiny.
(Frank Outlaw)
Diposting oleh
Aurora
di
19.59
0
komentar
Label: The Friday Glory
Sekantung Embun
Kamis, 25 Maret 2010
Diposting oleh
Aurora
di
20.16
0
komentar
Label: The Friday Glory
Kaisar Semesta
Kamis, 18 Maret 2010
Setiap hari Jumat, seharusnya aku harus semangat karena besok week end. Tapi akhir-akhir ini aku slalu ngerasa kalo aku ini smakin males ngapa-ngapain. Bawaannya pengen bengong terus, atau kalo nggak ke mal. Kemaren aku beli sepasang sepatu merk ternama dengan harga yang cukup miring, dan terpaksa harus utang mama lagi. Well, setiap nerima gaji di akhir bulan ada beberapa kewajiban yang harus aku penuhin. Diantaranya adalah bayar cicilan motor sampe tiga tahun ke depan. Dan sisanya, bayar utang! Huft! Aku nggak pernah henti ngayal kapan aku bisa bebas finansial dan bisa ngapain aja sesuka hati dengan uang itu. Tapi tanpa berbuat, lagi-lagi lamunan hanya sebatas aktivitas bodoh yang nggak ada gunanya. Aku pengen punya waktu yang bebas. Pengen punya penghasilan yang melimpah, dan menjadi bagian dari sejumlah kegiatan sosial. Selain itu aku pengen bisa nerusin kuliah, bila perlu sampe ke luar negeri. Mungkin sampe ke Oxford! Aku ingin lulus dengan predikat Summa Cumlaude setelah menyelesaikan program doktoral di singgasana ilmu itu. Lalu sebagai penyandang The Youngest of Best Graduate tersebut, aku ingin dipinang beberapa perguruan tinggi ternama untuk menempatkanku di posisi dosen dan mengajar mahasiswa intelek yang antusias dengan ilmu pengetahuan dan nggak sekedar menghabiskan kewajibannya sebagai mahasiswa yang disekolahin orang tua. Bagaimanakah rasanya hidup seperti itu? Apa aku nggak akan males lagi untuk bangun lagi? Aku tahu, sejumlah impianku itu terlalu utopis, dan rasa-rasanya hampir nggak mungkin terjadi. Tapi bila Tuhan aja menjajikan surga, yang katanya di sana penuh istana megah dengan butiran permata hingga batu musafir menjadi temboknya, lalu mengapa aku harus pesimis dengan cita-citaku? Bila ketidakmungkinan itu ada, berarti Tuhan juga nggak ada. Semua kemungkinan itu ada, tentu saja karena adanya Tuhan selaku sang pencipta. Jenghis Khan nggak pernah ada untuk menyatukan bangsa Mongol yang pecah belah dan menaklukan empirium terbesar dalam sejarah kalo nggak terlahir seorang anak yatim bernama Temujin. Bahkan seorang panglima perang yang dinisbihkan sebagai orang terkuat di dunia kala itu, hingga digelari Jenghis Khan yang artinya Kaisar Semesta, pernah ngerasain yang namanya menjadi tawanan perang. Itu berarti, dia pernah ngerasain yang namanya rasa takut, dan sulitnya mempertahankan hidup. Namun apa yang terjadi? Ketakutan dan sulitnya untuk terus hidup itulah yang membuat Temujin bangkit dan mengalahkan rasa takutnya, dan menantang segala kesulitan tersebut agar tetap hidup. Kadang aku berkesimpulan, orang-orang yang hidup dengan hukum rimba, malah mereka yang dapat menaklukan keadaan, membalikkan kenyataan, dan mewujudkan apa yang namanya kemustahilan. Sekarang aku tahu apa persyaratan yang harus dipenuhi seorang calon sukses. Hanya satu : Kesengsaraan.
Diposting oleh
Aurora
di
20.44
0
komentar
Label: The Friday Glory
Andai Mama Tau
Kamis, 11 Maret 2010

Andaikan mama tahu, kenapa aku seringkali melawan beliau bahkan terlibat adu mulut yang sengit, itu karena aku sayang mama, bukan malah sebaliknya melawan orang tua.
Tapi ngga tau kenapa, saat berhadap-hadapan sama mama, lagi-lagi aku nggak bisa ngomong secara lugas "Aku ingin membahagiakan mama...itu aja...".
Seperti malam-malam yang lalu, lagi-lagi aku diomelin mama karena ketahuan jual hp.
"Buat apa lagi sih?" ujar Mama dengan nada suara tinggi. Tapi aku (lagi-lagi) nggak bisa bilang bahwa itu adalah 'pengorbanan'ku untuk menuju sukses. Aku tahu, walaupun umurku udah 21, tapi bagi mama, aku masih putri kecilnya yang terkadang masih harus dibimbing dan diberi pengarahan. Termasuk masalah cita-cita dan prinsip hidup.
Bagi mama, ngeliat aku setiap hari berangkat ke kantor jam delapan pagi dan pulang ke rumah jam lima sore adalah kebanggaan tersendiri. Orang tua mana yang nggak suka liat anaknya ber jas rapi dengan dandanan necis a la pegawai kantoran disaat banyak para sarjana di luar sana yang nasibnya masih terkatung-katung? Menurut mama, aku si anak perempuannya ini sudah pas dan pantas kerja kantoran. Nggak usahlah nyari-nyari kerjaan lain yang sekiranya nggak bisa aku handle dengan baik. Misalnya MLM ini.
Ya, mama bisa aja menilai secara objektif tentang langkah yang aku ambil. Tapi seharusnya mama ngebiarin aku dengan semua keinginan utopisku ini. Toh ini hanya persoalan hp. Mungkin aku baru akan ngerti maksud mama ketika aku jadi orang tua nanti. But please, tolong mengertilah Ma....Aku udah dewasa. Aku bukan Tika yang masih anak-anak. Aku juga punya mimpi tentang masa depan. Masa depanku itu nanti. Bukan ini, yang sedang aku jalani.
Aku tau, mama selalu ingin yang terbaik bagi putrinya. Mama senang ngliat aku tumbuh seperti remaja lainnya. Yang kebanyakan dari mereka nggak perlu susah payah ngejar impiannya. Ya mama, aku pun menyukainya. Tapi sayang, bukan itu yang selama ini aku rasain.
Aku hanya terlalu sering iri sama temen-temen jeniusku. Mereka semua mahasiswa, mereka pintar dan cerdas, mereka seperti merengkuh masa depan. Mereka kliatan selalu sibuk sama makalahnya, mereka terlalu sibuk sama semua organisasinya. Buatku, mereka mirip orang penting dan selalu punya banyak kesempatan untuk beraktualisasi diri seluas-luasnya. Mereka aktif di forum. Berdiskusi tentang HAM, tentang posisi dan peran mereka dalam masyarakat. Mereka keren. Dan aku sering ngebayangin menjadi salah satu bagian dari mereka...WAAAW! Tentu aku bisa berbuat lebih dari apa yang aku bayangin...
Ma, aku ingin punya kesempatan yang sama seperti mereka. Aku ingin jadi mahasiswa dan lulus sebagai sarjana. Aku ingin seperti Citra yang lagi kuliah di Belanda, atau Helza yang sebentar lagi MA. Aku ingin jadi Athena, sang dewi kebijaksanaan. Kadang aku juga ingin jadi seperti Stallin dengan semua ambisinya. Aku ingin jadi apa yang aku ciptakan dalam alam utopisku. Bahwa aku hebat, bahwa aku bisa menaklukan apa-apa yang seharusnya menaklukanku. Aku cuma ingin bilang, aku ingin menaklukan nasib yang seakan berjalan horizontal ketika aku bergerak vertikal.
Tiba-tiba aku teringat kisah nabi Yusuf as (the bless be upon him) yang dibuang saudaranya karena ia pernah bermimpi suatu hari akan menjadi penguasa. Mereka sebut ia sang pemimpi. Aku juga ingat kisah Barrack Hosain Obama sang presiden Amerika, ya menjadi presiden pun adalah impian masa kecilnya. Lalu aku juga ingat Ikal, salah satu tokoh novel kesukaanku Laskar Pelangi yang akhirnya bisa kuliah hingga S2 di Universitas Sorbone Prancis karena semasa kecil, dia melihat menara Eifel pada buku diary yang diberikan A Ling, cinta monyetnya.
Don't you think those like a MIRACLE?
Makanya aku setuju banget sana Nidji :
mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya
laskar pelangi takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warna bintang di jiwa
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada Yang Kuasa
cinta kita di dunia selamanya
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi
... . .
Diposting oleh
Aurora
di
18.44
0
komentar
Label: The Friday Glory




